Kota Bogor dikenal dengan sejarah dan warisan budayanya yang kaya. Memiliki keindahan alam yang subur dan iklim yang sejuk, membuatnya menjadi tempat yang strategis untuk permukiman dan pertanian.
Dari sisi sejarah, Kota Bogor memiliki jejak sejarah yang panjang, termasuk sebagai ibu kota Kesultanan Banten pada abad ke-16. Selanjutnya, pada masa kolonial Belanda, kota ini menjadi tempat peristirahatan resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan diubah menjadi kota yang indah dengan banyak taman dan kebun.
Lalu, mengapa hari jadi Kota Bogor diperingati setiap tanggal 3 Juni?
Sri Baduga Maharaja Dinobatkan Sebagai Raja Pajajaran
Kerajaan Pajajaran adalah salah satu kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri di wilayah Jawa Barat pada abad ke-13 hingga abad ke-16. Puncak kejayaan kerajaan ini terjadi pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja. Ia merupakan putra dari Raja Linggabuana yang memerintah sebelumnya.
Sri Baduga Maharaja, yang juga dikenal sebagai Prabu Siliwangi, adalah seorang tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Pajajaran. Ia dinobatkan sebagai raja Pajajaran pada tanggal 3 Juni 1482.
Menurut legenda dan babad (naskah sejarah tradisional), penobatan Sri Baduga Maharaja sebagai raja Pajajaran dipengaruhi oleh beberapa peristiwa penting. Salah satunya adalah pertemuan dengan seorang resi (pertapa suci) bernama Sanghyang Surawisesa. Sanghyang Surawisesa memberikan ramalan kepada Sri Baduga Maharaja bahwa ia akan menjadi raja yang besar dan berjaya.
Pada tanggal 3 Juni 1482, Sri Baduga Maharaja resmi dinobatkan sebagai raja Pajajaran. Ia memerintah dengan bijaksana dan berhasil memperluas wilayah kekuasaan Pajajaran. Selama masa pemerintahannya, Sri Baduga Maharaja juga terkenal karena keberaniannya dalam pertempuran melawan pasukan dari Majapahit.
Namun, pada akhirnya, kejayaan Kerajaan Pajajaran tidak bertahan lama. Pada tahun 1527, pasukan Demak berhasil menaklukkan Kerajaan Pajajaran dan mengakhiri masa kejayaannya. Sri Baduga Maharaja sendiri dikatakan telah meninggal pada tahun 1530.
Meskipun Kerajaan Pajajaran telah berakhir, Sri Baduga Maharaja tetap dikenang sebagai salah satu tokoh bersejarah yang berjasa dalam mempertahankan dan memperluas wilayah kerajaan. Penobatannya sebagai raja Pajajaran pada tanggal 3 Juni 1482 menjadi momen penting dalam sejarah dan dijadikan sebagai peringatan hari jadi kota Bogor, Jawa Barat.
Gubernur Jenderal Gustaaf Willem van Imhoff Membangun Istana Buitenzorg
Pada abad ke-17, wilayah Bogor dikuasai oleh Kesultanan Banten. Pada tahun 1674, Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram merebut Bogor dari tangan Kesultanan Banten. Setelah itu, pada tahun 1684, wilayah Bogor ditaklukkan oleh Belanda yang saat itu sedang melakukan ekspansi ke wilayah Nusantara.
Bogor menjadi pusat aktivitas Belanda di Jawa Barat. Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal Gustaaf Willem van Imhoff (menjabat tahun 1743-1750) memerintahkan pembangunan sebuah istana di Bogor yang dikenal dengan nama Istana Bogor atau sebelumnya dikenal dengan nama Buitenzorg. Istana ini dibangun pada tahun 1744 dan selesai pada tahun 1750. Istana Buitenzorg menjadi tempat tinggal resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan keluarganya. Pembangunan istana ini mengubah wajah Bogor dan menandai awal pertumbuhan kota tersebut.
Buitenzorg adalah nama yang digunakan oleh kolonial Belanda untuk merujuk pada kota yang sekarang dikenal sebagai Bogor, Jawa Barat. Kata “Buitenzorg” berasal dari bahasa Belanda yang berarti “tanpa kekhawatiran” atau “tanpa cemas.” Nama ini menggambarkan suasana dan keindahan alam yang tenang dan nyaman di kota tersebut.
Era Pemerintahan Gubernur Jenderal Sir Stamford Raffles
Pada tanggal 3 Juni 1813, terjadi peristiwa penting yang melatarbelakangi peringatan tanggal tersebut. Pada hari itu, Sir Stamford Raffles (menjabat tahun 1811-1816), yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Hindia Belanda, mengeluarkan sebuah keputusan yang dikenal dengan “Perintah Pemindahan Kediaman Pusat Bupati Bogor”. Keputusan tersebut menetapkan bahwa kediaman pusat Bupati Bogor akan dipindahkan dari Ciawi ke Kecamatan Bogor.
Keputusan ini dianggap sebagai tonggak penting dalam perkembangan Bogor sebagai kota, karena pada saat itu Bogor menjadi pusat administratif dan pemerintahan di wilayah ini. Peringatan tanggal 3 Juni ditetapkan sebagai hari jadi Kota Bogor untuk menghormati peristiwa tersebut dan menjadi momen untuk mengenang sejarah dan peran penting kota Bogor dalam pembangunan Indonesia.
Kota Bogor Mempunyai Korelasi dengan Kota Pakuan
Melansir dari laman Pemkot Bogor, secara umum masyarakat Bogor mempunyai keyakinan bahwa Kota Bogor mempunyai korelasi dengan Kota Pakuan, ibu kota Pajajaran. Naskah Carita Waruga Guru (1750-an) yang berbahasa Sunda Kuno menjelaskan bahwa nama Pakuan Pajajaran didasarkan bahwa di lokasi tersebut banyak terdapat pohon Pakujajar.
Pada tahun 1869, K.F. Holle menulis “De Batoe Toelis te Buitenzorg” (Batutulis di Bogor), Holle menyebutkan bahwa di dekat Kota Bogor terdapat kampung bernama Cipaku, beserta sungai yang memiliki nama yang sama. Di sana banyak ditemukan pohon paku. Jadi menurut Holle, nama Pakuan ada kaitannya dengan kehadiran Cipaku dan pohon paku. Pakuan Pajajaran berarti “pohon paku yang berjajar” (op-rijen staande pakoe bomen).
Pada tahun 1921, R. Ng. Poerbatjaraka menulis “De Batoe-Toelis bij Buitenzorg” (Batutulis dekat Bogor) ia menjelaskan bahwa kata “Pakuan” mestinya berasal dari bahasa Jawa kuno “pakwwan” yang kemudian dieja “pakwan” (menggunakan satu “w”, ini tertulis pada Prasasti Batutulis). Dalam lidah orang Sunda, kata itu akan diucapkan “pakuan” yang berarti kemah atau istana. Jadi, Pakuan Pajajaran, menurut Poerbatjaraka, berarti “istana yang berjajar” (aanrijen staande hoven).
Dalam naskah Carita Parahiyangan ada kalimat berbunyi “Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata” (Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata).
Sanghiyang Sri Ratu Dewata adalah gelar lain untuk Sri Baduga. Jadi yang disebut “pakuan” itu adalah “kadaton” yang bernama Sri Bima dan seterunya. “Pakuan” adalah tempat tinggal untuk raja, biasa disebut keraton, kedaton atau istana. Jadi tafsiran Poerbatjaraka pada tahun 1921 cukup sejalan dengan arti yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan, yaitu “istana yang berjajar”.
Hingga saat ini, Bogor terkenal dengan keindahan alamnya, kenyamanan iklimnya, dan keberadaan kebun raya yang terkenal yakni Kebun Raya Bogor. Kota ini juga memiliki warisan budaya yang kaya, seperti Istana Bogor, yang masih berfungsi sebagai tempat tinggal resmi Presiden Indonesia dalam setiap kunjungannya ke Bogor.
