Membuat kerajinan tangan bisa dibilang merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Terlebih, jika hasil kerajinan yang dibuat punya nilai guna dan bisa dijual. Bagi sebagian orang, membuat kerajinan tangan merupakan hobi yang dilakukan pada saat senggang.
Selain untuk mengisi waktu luang yang sayang kalau dilewatkan begitu saja, membuat kerajinan tangan atau crafting juga bermanfaat untuk meningkatkan fokus atau konsentrasi pada suatu hal, lho.

Terus gimana kalau gak punya keterampilan di bidang crafting? tenang aja karena semua bisa dipelajari kok, bahkan bagi yang gak ada latar belakang akademik seni pun, bisa mencoba menekuni dunia kerajinan tangan.
Buat yang ingin memulai, bisa mencoba kerajinan tangan menggunakan bahan dasar clay. Sebenarnya istilah “clay” itu sendiri adalah tanah liat, akan tetapi dalam dunia kerajinan, istilah tersebut bisa diartikan sebagai tanah liat buatan. Jenisnya banyak, ada yang terbuat dari adonan tepung, parafin, bubur kertas, dan polymer.
Clay dari Bahan Adonan Tepung
Kalau biasanya clay identik dengan tanah liat atau tanah lempung sebagai bahan utamanya, ada juga yang dibuat menggunakan adonan tepung. Meskipun tidak “sekotor” menggunakan bahan tanah liat, penggunaan bahan tepung juga bisa dilakukan semua kalangan baik pemula atau mahir, termasuk anak-anak.

Clay berbahan tepung (flour clay) tentu lebih efisien dibanding tanah liat. Selain mudah ditemukan, bahan yang digunakan juga cukup aman untuk anak-anak.
Kerajinan jenis flour clay ini cocok buat yang memang tidak memiliki latar belakang seni rupa, karena bahannya tidak sulit dicari, serta mudah dipelajari dan dipraktekkan di rumah.
Kerajinan Clay Buatan Brombie Lab
Salah satu perupa clay adalah Amaylia Permahani, yang telah membuat kerajinan ini sejak tahun 2012. Pada awalnya, ia ingin membuat kerajinan berbahan keramik, namun seiring perjalanan waktu ia mencoba mencari alternatif bahan lain yang lebih mudah yakni yang berbahan tepung dan lem.
Bersama Brombie Lab, ia telah memproduksi berbagai kerajinan clay seperti aksesoris gelang, anting, kalung dan bros yang juga bisa dipesan sesuai keinginan.
“Banyak juga yang request minta dibuatkan aksesoris. Jadi misalnya, ada yang punya hewan peliharaan anjing warnanya orange, itu bisa dibikin clay-nya.” kata perempuan yang akrab disapa Amel.
Untuk proses pembuatannya cukup mudah, dimana tepung dan lem dicampur membentuk adonan hingga kalis. Setelah itu, adonan bisa dibentuk atau dicetak sesuai keinginan. Jika sudah kering dan mengeras, clay yang sudah dicetak tadi lalu digambar dan diberi warna sesuai motif yang diinginkan.
Kolaborasi bersama Kongsi 8
Dalam menjalankan Brombie Lab, Amel berkolaborasi bersama beberapa temannya membuat Kongsi 8 sebagai ruang seni. Terletak di daerah Jatinegara, Jakarta Timur, Kongsi 8 menempati rumah yang mereka sewa secara kolektif untuk dijadikan toko dan studio untuk memasarkan hasil karya mereka.
Kongsi 8 berada di tengah pasar dan menjadi penengah para pekerja lepas dan pekerja kreatif di Timur Jakarta yang ingin berkesenian.
Selain karya milik Amel, di Kongsi 8 juga terdapat berbagai karya seni dari pekerja kreatif lain yang tentunya bisa dibeli dan dikoleksi.
Tidak hanya sebatas menjual hasil kerajinan tangannya, Amel ingin terus mengembangkan Brombie Lab dan membagikan ilmu yang dimiliki khususnya dalam seni clay dengan rutin mengadakan workshop kreatif bagi siapa saja yang ingin bisa berkreasi dengan clay.
Nah, buat yang ingin tahu lebih detail mengenai kerajinan tangannya, bisa lihat media sosial Instagram Brombie Lab atau datang langsung ke Kongsi 8, ya!





