Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan beberapa produk biosensor yang dapat menanggulangi persoalan kesehatan maupun penanganan pencemaran lingkungan hidup.
Robeth Viktoria Manurung, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Elektronika (PRE) BRIN, menjelaskan bahwa nantinya perangkat biosensor ini akan bersifat portabel dan terkoneksi dengan smartphone agar dapat digunakan secara lebih efisien.
“Harapannya, perangkat ini akan digunakan sebagai peralatan portabel yang mampu dihubungkan dengan smartphone,” kata Robeth dikutip dari laman BRIN, Jumat (5/4).
Bersama tim, Robeth fokus pada penelitian biosensor berbasis elektrokimia, dengan memanfaatkan komposit graphene/ZnO nanoparticles. Perangkat ini pun telah digunakan untuk mendeteksi kadar biomarker human SAA untuk perawatan pasien kanker paru maupun tingkat keparahan pasien penderita Covid-19.
Spesifikasi teknis dari biosensor yang sedang dikembangkan adalah menggunakan jenis sampel berupa serum darah atau saliva pasien, menggunakan jenis transduser elektrokimia, dengan rentang pengukuran antara 10 hingga 200 miligram per liter.
Baca Juga: Indonesia Berkomitmen Kurangi Emisi Karbon Sebelum 2060
Alat deteksi pencemaran lingkungan
Selain penelitian biosensor untuk medis, Robeth dan tim juga telah menghasilkan purwarupa sensor untuk deteksi kandungan unsur hara tanah maupun deteksi pencemaran lingkungan. Hasil-hasil peneltian tersebut sudah dipublikasikan di jurnal global bereputasi menengah atau tinggi.
Biosensor adalah perangkat analisis yang menggabungkan komponen hayati dengan pendeteksi fisikokimia untuk mendeteksi zat kimia tertentu, sehingga menghasilkan luaran yang terukur.
Kelebihan perangkat ini bersifat portabel, mudah dioperasikan, dan tidak memerlukan backup supply. Biosensor juga dapat terintegrasi dengan Internet of Things (IoT) dan machine learning.
Baca Juga: Industri Animasi Indonesia Kian Melesat Tembus Pasar Internasional
Kelemahan biosensor BRIN
Namun, menurut Robeth, perangkat yang dia kembangkan ini masih memiliki kelemahan, yakni pada bahan baku yang bergantung impor. “Bahan baku untuk pembuatan biosensor sebagian besar merupakan produk impor. Hal ini berimbas kepada biaya produksi yang mahal,” jelas peneliti BRIN Robeth Manurung.
Untuk menekan biaya pengembangan, diperlukan kolaborasi interdisipliner antara ilmuwan dan insinyur ataupun penggiat dari berbagai bidang, seperti biologi, kimia, ilmu material, dan elektronik.
BRIN terus menjalin kolaborasi riset khususnya terkait sistem biosensor. bekerja sama dengan ITB, Universitas Padjadjaran, Monash University, National Institute for Materials Science, dan The University of Queensland, Australia. Program riset tersebut mempunyai ruang lingkup biosensing, biophysics, bio-photonics, microelectronics, nanomaterial, electronics, data communication, dan wireless communication. (dms/red)
