Selama beberapa dekade, tingkat emisi karbon di dunia telah meningkat pesat. Menurut laporan International Energy Agency (IEA) mencatatkan bahwa emisi karbon global naik sebanyak 1,7 persen pada tahun 2019, menjadi tingkat tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Di sisi lain, proyeksi IEA mencatatkan bahwa jika tidak dilakukannya tindak lanjut untuk membatasi emisi karbon, emisi karbon global akan naik dua kali lipat selama abad ini. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang cepat dan efisien dibutuhkan untuk membatasi emisi karbon global untuk meminimalkan dampak buruk akibat perubahan iklim.
Di Indonesia, tingkat emisi karbon juga mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data dari Global Carbon Project, pada tahun 2019, Indonesia menduduki peringkat ke-7 dalam daftar negara dengan emisi karbon tertinggi di dunia. Faktor-faktor seperti deforestasi, pembakaran hutan, serta penggunaan energi fosil yang tinggi menjadi penyebab utama dari tingginya emisi karbon di Indonesia. Upaya untuk mengurangi emisi karbon di Indonesia sangat penting dilakukan agar negara ini dapat berkontribusi positif dalam upaya global untuk mengatasi perubahan iklim.
Baca Juga: Lintas Raya Terpadu (LRT) di Bali akan Dibangun di Bawah Tanah
Seiring itu, sejumlah komitmen dunia termasuk upaya nol emisi karbon sebelum 2060 pun tetap harus berjalan dan terus diupayakan. Demikian pula dengan Indonesia. Komitmen negara ini kembali disuarakan oleh Presiden Joko Widodo ketika berbicara di KTT Pemimpin Dunia tentang Perubahan Iklim (COP28) di Dubai, akhir tahun 2023 lalu. Ketika itu, Presiden Jokowi menegaskan komitmen Indonesia dalam membangun negara makmur dan berkelanjutan dengan perekonomian inklusif. Untuk mencapai hal tersebut, Presiden Jokowi menyatakan akan terus bekerja keras dalam mencapai nol emisi karbon sebelum 2060.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Presiden Jokowi pun mengundang sejumlah pihak seperti mitra bilateral, investasi swasta, filantropi, dan negara sahabat untuk menjalin kolaborasi pendanaan dalam mewujudkan nol karbon emisi pada 2060. Salah satu alat untuk mencapai emisi nol karbon 2060, pemerintah menggenjot bauran energi.
Realisasi bauran energi primer dari EBT mencapai 13,1 persen
Dalam konferensi pers “Capaian Kinerja Sektor ESDM 2023 dan Program Kerja 2024” di Jakarta, Selasa (16/01/24), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif melaporkan, realisasi bauran energi primer yang berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT), mencapai 13,1 persen atau 238,1 juta barel setara minyak (MBOE) pada 2023. Arifin mengakui, capaian bauran EBT 2023 itu meningkat walaupun belum signifikan. Dalam rangka itu, Arifin menjelaskan diperlukan upaya strategis untuk mencapai target 23 persen bauran EBT pada 2025.
“Tahun 2025 itu kita targetkan 23 persen bauran, tetapi saat ini kita masih pada level 13,1 persen sehingga perlu upaya-upaya keras untuk bisa mendekati target capaian pada 2025 tersebut,” kata Arifin.
Baca Juga: Piranti Konversi Motor Listrik Buatan Elders Garage Tembus Pasar Global
Arifin memastikan bahwa Kementerian ESDM juga telah menyiapkan beberapa langkah strategis, guna mencapai target tersebut. Di antaranya, pelaksanaan pembangunan EBT sesuai dengan yang telah direncanakan dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), dengan target terpasang 10,6 GW pada 2025.
Kemudian ada juga melalui implementasi program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap, yang ditargetkan mencapai 3,6 GW di 2025. Serta, konversi pembangkit diesel ke EBT sesuai target dalam RUPTL. “Jadi nanti PLTS Atap ini juga harus disesuaikan, dengan kemampuan masyarakat dan PLN untuk bisa mengakomodirnya. Juga konversi pembangkit diesel ke EBT,” kata Arifin.
Emisi karbon timbulkan banyak dampak negatif
Emisi karbon adalah proses penyerapan dan pembebanan karbon di dalam lingkungan, yang dapat menyebabkan perubahan iklim global. Karbon dihasil oleh aktivitas seperti pembakaran bahan bakar fosil, penggalian batu bara, dan pertambahan pembuatan barang-barang.
Emisi karbon juga dapat disebabkan oleh aktivitas pertambahan lahan dan penggalian hután, yaitu proses yang menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4), dua gas rumah kaca yang paling signifikan dalam menyebabkan perubahan iklim global.
Emisi karbon diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi dan produksi barang, namun perluasannya menyebabkan penyebaran gas rumah kaca di atmosfera, yang menyebabkan perubahan iklim global seperti penyebaran panas global, perlahan penyebaran lahan, dan peningkatan tinggi air laut, yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan, ekonomi, dan lingkungan. (dms/red)
