Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) mengatakan jika moda lintas raya terpadu (LRT) di Bali akan dibangun di bawah tanah. Hal ini disampaikan Ervan Maksum selaku Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas.
“Ada banyak aturan pembangunan di Pulau Dewata. Oleh karena itu, alternatif pembangunan LRT adalah underground.” kata Ervan.
Ervan juga mengungkapkan untuk tahap awal proyek ini akan dibangun sepanjang 5,3 km. Lintasan sepanjang itu akan menghubungkan bandara I Gusti Ngurah Rai dengan Extended Terminal dan area parkir di Kuta Central Park.
Sedangkan untuk biaya pembangunan LRT di bawah tanah tiga kali lipat dari pembangunan normal dengan prediksi mencapai US$596,28 juta atau setara Rp9,17 triliun (asumsi kurs Rp15.388 per dolar AS).
Baca Juga: Pertalite Diusulkan untuk Dihapus, Diganti Pertamax Green 92
“Terkait pendanaan, hal ini tidak bisa hanya berasal dari Dirjen Kereta Api, tapi dari semuanya pihak, termasuk BUMN.” kata Ervan dalam Seminar Nasional Strategi Green Financing Sektor Transportasi untuk Daya Saing Perkeretaapian Berkeadilan yang disiarkan secara daring, Rabu (20/9).
Pembangunan LRT juga bisa memanfaatkan pinjaman lunak kepada pemerintah daerah. Selain itu, ia juga mengatakan rencana pemerintah untuk membuat regulasi passenger service charge (PSC) penumpang pesawat untuk pembiayaan LRT.
Kemudian mekanisme Transit Oriented Development (TOD) (sewa, parkir, dan iklan) dari bandara. Menurutnya, pendapatan dari PSC dan TOD itu bisa untuk pengembalian pinjaman. (dms/red)
