Buat yang gak pernah absen nyimak sidang kasus FS, khususnya saat menghadirkan saksi ahli, pasti pernah denger istilah poligraf. Alat uji poligraf atau tes kebohongan ini menjadi salah satu data pendukung untuk mengungkap pembunuhan Brigadir Yosua.
Kita gak usah bahas kasus pembunuhannya, tapi perangkatnya aja, ya!
Oke.. jadi singkatnya, lie detector atau uji poligraf ini merupakan perangkat untuk mendeteksi apakah seseorang berkata bohong atau jujur.
Kapan Pertama Kali Dipakai?
Sejarah penemuan mesin lie detector pertama kali diciptakan oleh petugas kepolisian Berkeley, California, John Larson pada tahun 1921 untuk membantu penyidik menguji kebenaran atau bahkan kebohongan yang disampaikan pelaku kejahatan.
Perangkat uji kebohongan ini kemudian dikembangkan lagi oleh seorang psikolog Harvard, William Mouton Marston yang dikenal sebagai mesin poligraf dimana pengukurannya didasarkan pada tes tekanan darah sistolik.
Kenapa menggunakan tekanan darah? Marston berpendapat, bahwa perubahan tekanan darah bisa nunjukkin apakah seseorang sedang berbohong atau tidak.
Di tahun 1923, setelah lie detector ini ditemukan, banyak tantangan bahkan polemik di kalangan komunitas ilmiah. Sehingga validitasnya masih dipertanyakan oleh beberapa psikolog kala itu.
Akhirnya terus dilakukan pengembangan, hingga ditemukan lie detector generasi baru yang memberikan cara lain untuk mendeteksi kebohongan, yakni dengan metode Voice-Stress Analyzer (VSAs) yang mulai berkembang di tahun 1970-an.
Uji kebohongan ini mendeteksi variasi kecil dalam suara subyek yang dikenal sebagai mikrotremor, dimana ketika seseorang berbohong, maka getarannya akan semakin cepat.
Tapi.. penemuan ini juga mendapat kritikan, karena banyak yang berpendapat bahwa VSA tidak dapat membedakan antara stres yang dihasilkan dari berbohong dengan stres yang dirasakan pada umumnya.
Baca Juga: Suka Gampang Marah, Sebuah Pertanda Kesehatan Sedang Terganggu?
Uji Kebohongan yang Sekarang Dipakai
Cara kerja lie detector menggunakan sensor yang ditempatkan pada subyek tes. Sensor ini bakalan merekam pernapasan, detak jantung, tekanan darah dan respons kulit galvanis atau kelembapan di ujung jari, dikutip dari Britannica.
Kalau ternyata mengalami perubahan dari tingkat normal, atau ada perbedaan dan fluktuasi, maka ini bisa mengindikasikan kalau seseorang berbohong.
Ada tiga sensor yang digunakan untuk mendeteksi.
Pertama, sensor pneumograf yang merupakan tabung karet berisi udara, yang ditempatkan di sekitar dada dan perut orang yang akan diuji.
Kedua, sensor blood pressure yang mendeteksi adanya perubahan tekanan darah dan detak jantung. Sensor kabel ini ditempelkan pada bagian lengan.
Ketiga, sensor skin resistance yang mendeteksi keringat yang ada di tangan. Kabel sensor ini biasanya ditempelkan pada jari-jari tangan.
Mencari Kebenaran Secara Ilmiah
Perangkat uji kebohongan atau uji poligraf bisa menjadi alat pencari kebenaran dengan pendekatan secara scientific investigation dalam menyidik dan melengkapi berkas suatu perkara. Sehingga akan dihasilkan sebuah analisis penyidikan secara ilmiah, objektif, transparan, serta dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun tidak sedikit pakar yang bilang bahwa lie detector ini gak efektif untuk menguji kebohongan seseorang. Karena semua tergantung pada pertanyaan dan objektivitasnya.
