Media sosial lagi ramai pembahasan tentang NPD, nih. Topik ini muncul ke permukaan setelah ada unggahan terkait kasus perselingkuhan yang menimpa salah satu musisi tanah air. Dari unggahan di media sosial tersebut, sempat disinggung tentang NPD yang merupakan gangguan kepribadian.
Buat yang ‘kepo’ sama kasusnya, bisa pantau di media sosial. Karena di sini tidak akan dibahas mengenai kasus perselingkuhannya, melainkan topik NPD yang memiliki gejala umum dan sering kita temui di keseharian. Hal ini dikarenakan, sebagian besar pengidapnya tidak menyadari kalau mereka memiliki NPD.
Apa Sih NPD?
Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan pola perilaku dan pemikiran yang berlebihan tentang diri sendiri, merasa lebih penting dari orang lain, kurang empati terhadap perasaan orang lain, dan butuh pengakuan yang berlebihan dari orang lain.
Orang dengan NPD ini cenderung merasa superior dan tidak terkalahkan, sering memamerkan keberhasilan mereka, dan menganggap bahwa orang lain tidak mampu memahami kecerdasan atau keunikan mereka.
Baca Juga: Suka Gampang Marah, Sebuah Pertanda Kesehatan Sedang Terganggu?
Siapa yang Rentan Mengidap NPD?
Pengidap NPD bisa siapa saja, tetapi cenderung terjadi pada orang yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat kompetitif, seperti dalam keluarga yang menekankan keunggulan atau prestasi, atau dalam budaya yang menghargai individualisme dan kesuksesan pribadi di atas segalanya. Selain itu, orang yang tumbuh dengan pengasuhan yang tidak konsisten atau kurang perhatian dapat lebih berisiko mengembangkan NPD.
Hampir sebagian besar orang dengan NPD tidak menyadari bahwa mereka punya masalah dan sulit untuk mencari bantuan. Akibatnya, NPD bisa mempengaruhi kehidupan pribadi, sosial, dan profesional mereka secara signifikan.
Gejala yang Terlihat Apa Saja?
Kebanyakan orang dengan NPD mengalami gejala sejak usia awal dewasa, sekitar akhir remaja atau awal 20-an. Pada saat ini, orang dengan NPD mungkin mulai menunjukkan perilaku yang dianggap sombong, merasa lebih unggul, dan kurang empati terhadap orang lain.
Dari pedoman Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), gejala umum yang biasanya terlihat pada orang yang mengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD) antara lain:
- Merasa lebih baik dari orang lain.
- Membutuhkan banyak pujian dari orang lain.
- Sibuk mengkhayal tentang kesuksesan, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau pasangan yang sempurna.
- Merasa istimewa dan hanya mau bergaul dengan orang yang ia anggap setara dengannya.
- Merasa berhak mendapat perlakuan khusus dari orang lain.
- Memanfaatkan orang lain untuk keuntungan diri sendiri.
- Tidak memiliki empati dan kepedulian terhadap orang lain.
- Sering merasa iri terhadap orang lain, atau menganggap orang lain iri padanya.
- Memiliki sikap arogan atau sombong.
Jika dari hasil diagnosa didapatkan pasien memiliki 5 dari 9 kriteria di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa pasien tersebut mengidap NPD.
Tapi, perlu diingat nih! bahwa tidak semua orang yang punya sifat sombong, merasa lebih unggul, atau kurang empati memiliki NPD. Diagnosis NPD hanya dapat diberikan oleh profesional kesehatan mental yang berkualifikasi setelah melakukan evaluasi dan observasi yang cermat terhadap pola perilaku dan gejala yang dialami oleh individu tersebut.
Baca Juga: Mengenal Uji Poligraf yang Dipakai Untuk Mendeteksi Kebohongan
Faktor Apa yang Menjadi Penyebabnya?
Melansir dari laman Ditjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan gangguan kepribadian NPD. Namun, diduga terkait dengan sejumlah faktor, seperti:
- Faktor genetik, yaitu riwayat narsistik dalam keluarga.
- Faktor lingkungan, yaitu pola asuh orang tua yang terlalu memanjakan, menuntut, atau tidak memedulikan anak; atau pengalaman masa kecil, seperti penyiksaan atau trauma.
- Faktor neurobiologi, yaitu hubungan antara otak dengan pola pikir dan perilaku.
NPD tidak memiliki satu penyebab tunggal dan kompleksitas kondisi ini dapat disebabkan oleh interaksi dari berbagai faktor. Oleh karena itu, diagnosa dan pengobatan NPD memerlukan evaluasi dan perawatan yang cermat dari profesional kesehatan mental yang berkualifikasi.
Cara Penyembuhannya Gimana?
Pengobatan untuk NPD biasanya melibatkan terapi psikologis atau konseling, tetapi tidak ada obat atau terapi tunggal yang dapat menyembuhkan kondisi ini sepenuhnya. Terapi yang paling umum digunakan untuk mengobati NPD adalah terapi psikologis seperti terapi perilaku kognitif (CBT), terapi psikodinamik, dan terapi keluarga.
Terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu individu dengan NPD memperbaiki pola pikir dan perilaku yang merugikan mereka sendiri dan orang lain. Terapi psikodinamik melibatkan analisis lebih mendalam terhadap masalah dan konflik psikologis yang mendasari NPD. Terapi keluarga dapat membantu individu dengan NPD untuk memperbaiki hubungan dengan anggota keluarga dan belajar cara berinteraksi yang lebih sehat.
Dalam beberapa kasus, obat-obatan seperti antidepresan, obat penenang, atau stabilisator suasana hati dapat digunakan untuk membantu mengurangi gejala terkait NPD seperti kecemasan dan depresi, namun obat-obatan ini tidak dapat menyembuhkan NPD sepenuhnya.
Penting untuk diingat bahwa NPD adalah kondisi yang kompleks dan membutuhkan evaluasi dan perawatan dari profesional kesehatan mental yang berkualifikasi. Pada akhirnya, perawatan dan pengobatan NPD memerlukan kerja sama dan upaya dari individu yang terkena dan keluarga atau pasangan mereka untuk mencapai kemajuan yang signifikan.
Kira-kira kamu pernah ketemu sama orang yang mengidap NPD gak?
