Ngerasa gak sih, kalau sekarang orang kok suka gampang marah, ya?
Sebenarnya banyak hal yang bisa memicu seseorang jadi gampang marah. Mulai dari stres, masalah keluarga, sampai masalah keuangan. Bahkan, ada juga yang jadi gampang marah karena efek ketergantungan alkohol dan obat-obatan. Waduh!
Saat kita marah bisa dibilang adalah kondisi yang membingungkan. Kenapa? karena ketika kita meluapkan kekecewaan dengan cara marah sebenarnya bukanlah sesuatu yang salah, tapi sebaliknya kalau emosi dan amarah dipendam justru bisa menimbulkan gangguan kesehatan.
Hmm.. jadi seharusnya gimana?
Kita pahami dulu bahwa sebagai manusia, kita diciptakan memiliki berbagai macam emosi. Emosi tersebut justru wajib dimilikin supaya bisa ngerasain yang namanya empati dan simpati.
Namun, emosi juga harus disertai dengan kecerdasan atau emotional quotient, supaya kita bisa mengendalikan emosi dengan baik dan tidak menjadi sosok yang emosional.
Emosi dalam Dunia Psikologi
Dari sisi teori, pada tahun 80-an, psikolog Robert Plutchik mengidentifikasi delapan emosi dalam psikologi yang ia kelompokkan menjadi pasangan yang berlawanan. Klasifikasi ini dikenal dengan istilah “Roda Emosi”, yang dibagi menjadi: Joy (senang) dan Sadness (sedih), Anger (marah) dan Fear (takut), Trust (percaya) dan Disgust (jijik), Surprise (terkejut) dan Anticipation (berharap).
Menurut Plutchik, setiap emosi memiliki warna tema yang berbeda-beda, dan bercampur sehingga dapat menciptakan emosi baru yang lebih kompleks.
Namun, studi baru dari Institute of Neuroscience and Psychology di University of Glasgow di tahun 2014 menemukan bahwa alih-alih enam, mungkin hanya empat emosi dasar yang mudah dikenali. Dalam studi tersebut dikatakan bahwa kemarahan dan rasa jijik memiliki ekspresi wajah yang serupa, begitu pula dengan rasa terkejut dan takut. Hal ini nunjukin bahwa perbedaan antara emosi tersebut berdasarkan sosiologis bukan berdasarkan biologis.
Emosi itu Butuh Direspon dan Kontrol
Pernah denger Amygdala? Nah, Amygdala ini adalah satu wilayah pada otak yang terlibat dalam proses emosi untuk membantu merespon suatu peristiwa emosional dan memerintahkan organ tubuh untuk bereaksi terhadap peristiwa tersebut.
Karena emosi itu dapat beradaptasi dan berkembang seperti tingkah laku. Maka, emosi membutuhkan pengalaman dan pematangan untuk bisa dikendalikan dengan baik. Semakin kita dewasa, maka kemampuan untuk merespon dan mengendalikan emosi akan semakin kuat.
Banyak peneliti yang percaya bahwa kecerdasan emosional dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu, meskipun beberapa orang berpendapat bahwa emosi adalah sifat yang diturunkan secara genetik.
Gampang Marah atau Punya Anger Issue
Seseorang yang gampang marah atau punya anger issue bisa jadi sulit buat ngendaliin kemarahannya. Bahkan, sangat besar kemungkinannya buat melakukan atau mengatakan sesuatu yang bisa berdampak negatif.
Yang paling fatal, seseorang yang meledak-ledak emosinya cenderung bertindak kasar kepada orang lain, seperti memukul atau menendang. Pada kasus ini, dalam dunia kesehatan dikenal dengan ketidakseimbangan hormon Serotonin atau hormon kebahagian. Buat informasi, Serotonin adalah produksi sel saraf kimiawi yang bertugas mengirim sinyal di antara sel-sel saraf sehingga berperan dalam mengatur suasana hati kita. Inilah mengapa seseorang yang melakukan kekerasan selalu dikaitkan dengan depresi, karena munculin gejala yang bisa dibilang sama.
Jadi, intinya?
Seseorang yang gampang marah atau emosinya berlebihan bisa jadi sedang mengalami berbagai hal yang mengganggu kesehatan mentalnya. Secara umum kondisi ini sih dikaitin sama banyaknya beban pikiran yang membuat stres dan depresi, seperti yang udah dibahas di atas. Disamping ada faktor lain yang bisa menyebabkan kita jadi gampang marah, seperti kurang tidur, gak enak badan, atau kurang piknik.
Buat tahu penyebab pastinya, coba diagnosa dulu. Kalau pemicunya mengerucut ke psikis seperti stres dan depresi, coba deh buat nyari solusinya. Pelan-pelan urai pangkal masalahnya, supaya gak makin berlarut-larut. Apalagi kalau sampai memukul dan menyiksa. Minta bantuan ahli seperti psikolog mungkin lebih baik.
Tapi kalau ternyata pemicunya berasal dari jasmaniah, segera perbanyak istirahat atau hubungin dokter kesayangan. Jangan lupa juga kita bukan robot yang kuat kerja sepanjang waktu.
Jadi Sob, mengelola emosi itu penting banget biar kita gak gampang emosian. Jangan sampai karena sering marah-marah, berdampak ke semua aspek atau bahkan kita dicap sebagai sosok yang tempramen. Bisa dijauhin sama orang-orang sekitar, karena mereka bakalan nganggep kita gak asik!
