Buat yang melek fesyen, sudah pasti familiar dengan Shibori. Terlebih belakangan ini Shibori banyak dijumpai dalam berbagai macam bentuk pakaian. Meski Shibori bukan istilah yang baru, tapi bagi sebagian orang Shibori mungkin terdengar asing.
Shibori adalah teknik pewarnaan kain yang berasal dari Jepang. Shibori dipercaya sebagai teknik pewarnaan pakaian yang tertua di Jepang, yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-18. Meski serupa dengan teknik tie-dye yang berkembang di Amerika Serikat dan Eropa pada 1960-an, namun ada sejumlah perbedaan antara tie-dye dengan Shibori.

Dari teknik pembuatan, Shibori menggunakan benang untuk membuat banyak titik kecil berulang pada kain. Teknik ini membuat warna dan corak yang dihasilkan lebih detail dan rumit dibandingkan tie-dye biasa. Kemudian untuk ikatan, tie-dye biasanya menggunakan satu ikatan untuk mengikat bagian tengah kain sehingga desain yang terbentuk adalah spiral. Sedangkan Shibori menggunakan sejumlah ikatan sehingga motifnya lebih beragam. Untuk pewarnaan, tie-dye cenderung memiliki warna yang beragam seperti pelangi, sementara Shibori hanya berupa satu warna.
Selain itu, Shibori memiliki berbagai teknik yang secara umum dikenal dengan teknik dasar shibori yaitu Kuma, Miura, Kanoko, Arashi, Nui, dan Itajime yang masing-masing tekniknya memiliki cara pewarnaan yang berbeda. Meski berasal dari Jepang, teknik Shibori memiliki proses pembuatan yang mirip dengan kain Batik dan Jumputan di Indonesia, sehingga tidak asing untuk dikembangkan.
Komunitas Tekstil Berbasis Fiber
Bicara Shibori, ada satu studio kreatif yang mengaplikasikan teknik ini dalam menciptakan karya seni tekstilnya, yakni Seratan Studio. Seratan Studio merupakan studio kreatif dan komunitas tekstil berbasis “fiber” di Jakarta yang fokus bereksplorasi menggunakan media tekstil yang ramah lingkungan. Didirikan tahun 2017, Seratan Studio aktif mengadakan pelatihan kepada masyarakat untuk memberikan pengalaman baru bagi yang ingin belajar tentang seni dan proses tekstil melalui kolaborasi kelas workshop kreatif.
Tidak hanya metode Basic Shibori, tapi juga berbagai metode seperti Natural Dye Technique, Ecoprint, Stamp Art, Hand Embroidery, Tapestry (Basic Weaving), Marbling on Canvas, dan Painting in Textile bisa dipelajari dalam workshop kreatif Seratan Studio.
Produk Tekstil yang Ramah Lingkungan
Di balik Seratan Studio, ada nama Deya Ayu Defrillia yang telah aktif sebagai seorang crafter sejak tahun 2014. Dari tangan Deya dan teman-temannya, produk-produk tekstil yang ramah lingkungan tercipta menjadi sebuah produk seni yang bernilai guna.
Deya memilih teknik Shibori karena melihat metode yang digunakan cukup mudah untuk dipelajari, sehingga ia merasa siapa pun bisa membuatnya. Selain itu, bahan yang digunakan berasal dari bahan yang ramah lingkungan.
“Untuk Shibori, kalau sudah dipelajari sebenarnya mudah untuk membuat teknik-teknik yang kita mau dan itu tekniknya hanya dicelup.” kata Deya.
Untuk pewarnaan, Shibori memanfaatkan warna alam yang disebut indigo dengan karakter yang dimunculkan berwarna biru sebagai ciri khas teknik Shibori. Selain itu, media kain yang digunakan merupakan bahan yang sustainable seperti katun organik yang tidak berpolyester. Setiap karya yang dibuat, Seratan Studio mengusahakan agar setiap desain yang dibuat bersifat timeless sehingga tidak menghasilkan limbah yang banyak.
Melalui media sosial Instagram @seratanstudio, ragam produk seni tekstil dan barang kreatif buatan Seratan Studio dipasarkan. Tidak jarang, Deya juga mempublikasikan jadwal workshop yang akan digelar. Semua ia lakukan untuk memberikan edukasi dan berbagi ilmu tentang bagaimana membuat karya tekstil yang ramah lingkungan. Seperti pemanfaatan bahan baku limbah kain yang tidak terpakai untuk diubah menjadi barang kreatif bernilai guna.





