Kecintaan pada lingkungan tidak hanya bisa diwujudkan dalam kegiatan luar ruang dan praktik hidup berkelanjutan, tapi juga bisa dilakukan dari segi berpakaian. Caranya? dengan mengaplikasikan konsep Sustainable Fashion.
Sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan adalah salah satu konsep modern yang dapat mengurangi dampak buruk pada lingkungan dan semua elemen proses produksi pakaian itu sendiri. Artinya tidak sekedar produk yang ramah untuk kulit atau tubuh penggunanya, namun juga ramah lingkungan untuk proses produksi, bahan baku, serta ramah pada kesejahteraan sosial dan pelaku industri di dalamnya.

Lalu kenapa sih, konsep sustainable fashion bisa muncul? Salah satu faktor yang mendorong adalah karena tingginya limbah yang dihasilkan industri fesyen setiap tahunnya. Limbah-limbah ini berasal dari proses produksi, pakaian yang dibuang begitu saja, hingga berbagai limbah lain yang punya dampak buruk untuk lingkungan.
Mau tidak mau, fesyen berkelanjutan harus menjadi tanggung jawab kita semua, bukan hanya untuk ahli lingkungan, perancang busana, penikmat fesyen atau bukan, tapi seluruh umat manusia. Sudah saatnya konsep fesyen berkelanjutan diimplementasikan dalam setiap lapisan kehidupan.
Keresahan Terhadap Kondisi Lingkungan
Di antara begitu banyak desainer muda Indonesia, ada nama Denisha Anggraeni. Salah satu desainer fesyen yang concern pada isu lingkungan. Minat Denisha di dunia fesyen sudah dimulai sejak SMK, kala itu ia berkesempatan untuk magang di salah satu butik milik desainer fesyen Indonesia. Merasa semakin tertarik dengan fesyen, ia memutuskan untuk mengambil kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan Fashion Design.
Namun seiring perjalanan waktu, Denisha semakin tahu bahwa industri fesyen itu cukup banyak menyumbang limbah di dunia. Hingga akhirnya ia mulai mengangkat isu-isu lingkungan dalam rancangan busananya.
Berangkat dari isu lingkungan tersebut, Denisha mencoba mengaplikasikan konsep fesyen berkelanjutan. Bukan hanya sustainable, tapi juga ethical. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan limbah pakaian. Dalam fesyen berkelanjutan, Denisha menggunakan bahan linen yang berasal dari tanaman rami yang mudah terurai dibanding bahan lainnya.
“Sustain dan ethical itu sebenarnya enggak hanya memakai bahan yang ramah lingkungan, tapi cakupannya luas. Kita juga harus mikirin gimana kesejahteraan para pekerjanya, tahu apa isu sosial dan lingkungan yang sedang terjadi, terus tahu waste-nya setelah pakaian itu jadi.” kata perempuan yang akrab disapa Denis.
Kemudian agar pesan bisa sampai ke masyarakat, Denisha mengaplikasikan perwarnaan yang playfull dan eksentrik, sehingga desain yang ditampilkan terlihat lebih cerah dan pesan kampanye yang ia tampilkan dalam bentuk pattern tulisan di kain bisa menonjol dan terbaca.
Buat yang penasaran dengan desain Denisha, bisa lihat media sosial Instagram @raebydenis yang menampilkan portofolio terkait sustainable fashion dan berbagai proyek kolaborasi fesyen bersama sejumlah brand.
Menerapkan Konsep Sustainable Fashion
Terlepas dari sosok Denisha yang aktif mengkampanyekan isu lingkungan, peran masyarakat sebagai penikmat dan pengguna fesyen juga penting dilakukan. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menerapkan konsep fesyen berkelanjutan. Yang pertama, ketika berencana mencari pakaian baru, kita bisa mengutamakan pakaian yang berbahan kain organik yang mudah diolah oleh alam. Kemudian jika kita memiliki pakaian yang lama, lakukan styling dan daur ulang sehingga bisa mendapatkan tampilan segar dari kombinasi beberapa pakaian lama. Hal ini turut membantu memperpanjang usia pakaian, ketimbang harus berakhir di tempat pembuangan sebagai limbah.
Dengan melakukan beberapa langkah tersebut, setidaknya kita bisa ikut andil dalam menerapkan konsep fesyen berkelanjutan yang erat kaitannya dengan isu lingkungan. Karena konsep ini tidak bisa hanya diterapkan dari sisi produsen saja, oleh karena itu peran konsumen sebagai pengguna menjadi kunci bagi keberlangsungan lingkungan dan kemanusiaan dalam setiap pilihan berpakaian.





