Citayam, Sudirman, dan Dukuh Atas sedang jadi topik perbincangan di lini masa dalam beberapa waktu belakangan. Topik ini juga diikuti dengan satu istilah khusus yakni Citayam Fashion Week.
Apa sih Citayam Fashion Week? Buat yang belum tahu, istilah ini merujuk pada fenomena kerumunan remaja di bilangan Sudirman, Jakarta Pusat, khususnya di kawasan Dukuh Atas yang memang dikenal memiliki area ramah untuk pejalan kaki. Kawasan ini juga memiliki fasilitas ruang publik yang memadai untuk dijadikan tempat berkumpul bagi komunitas masyarakat dari berbagai latar belakang.
Di tempat itu ratusan anak remaja yang diketahui berasal dari Citayam, Bojonggede, Bekasi, atau pinggir wilayah Jakarta berbondong-bondong meramaikan lingkungan sekitar.
Baca Juga: Kota Jakarta Juarai Sistem Pengendalian Banjir di WSIS Prizes 2022
Demokratisasi kawasan Sudirman
Melihat fenomena SCBD (Sudirman, Citayam, Bojonggede dan Depok) Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut kehadiran mereka di Dukuh Atas sebagai demokratisasi Jalan Sudirman. Jalan di pusat bisnis Jakarta itu menjadi milik semua, siapa saja bisa datang menikmati, mulai dari orang tua hingga anak-anak.
“Ingat dulu sempat kontroversi karena melebarkan jalan untuk pejalan kaki mengurangi jalan untuk kendaraan bermotor. Tapi, Jalan Jenderal Sudirman memang kami rancang untuk menjadi complete street,” ujar Anies, mengutip Tempo.co.
Complete street artinya, lanjut Anies, ada trotoarnya, ada tempat untuk sepeda, kendaraan umum, ada pula tempat untuk kendaraan pribadi. Sehingga tempat ini yang dulunya orang keluar masuk gedung perkantoran di kawasan Jalan Sudirman itu selalu menggunakan kendaraan pribadi, bahkan pindah antar gedung pun kendaraannya pribadi sekarang bisa jalan kaki. “Masyarakat luar kawasan Sudirman itu bisa jalan-jalan ke sana.”

Baca Juga: Presiden Jokowi dan PM Australia Anthony Albanese, Berkeliling Kebun Raya Bogor dengan Sepeda Bambu
Kenapa fenomena ini muncul?
Dari Citayam Fashion Week, ada isu yang menjadi perhatian penting bagi pemerintah khususnya terkait aspek perencanaan wilayah dan kota, yakni pentingnya keberadaan ruang publik. Karena ruang publik bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk dimiliki, melainkan kebutuhan dasar bagi setiap kota.
Jika bicara Jakarta dan daerah sekitar misalnya, keberadaan ruang publik masih menjadi hal yang belum terlalu umum dijumpai dalam jumlah massal. Hal tersebut karena lahan yang ada lebih diprioritaskan untuk dibangun sebagai kawasan perkantoran, industri, dan sejenisnya. Sedangkan masyarakat kita membutuhkan ruang untuk bersosialisasi, berinteraksi, mencari hiburan, dan lain sebagainya.
Sehingga ketika ada ruang publik dengan fasilitas yang memadai seperti kawasan Dukuh Atas dan Sudirman yang tidak ditemui di daerah lain, otomatis langsung mengundang kedatangan masyarakat dari kota satelit seperti Bogor, Depok, Bekasi, dan sekitarnya. (dms/red)
